*
*
“ahahahahahahaha” tiga mahasiswi itu asik tertawa renyah di sebuah café. Tak perduli dengan apa kata orang. Tertawa terbahak-bahak adalah kebiasa’an mereka bertiga. Meskipun kata kebanyakan orang mereka itu ‘alay’. Tapi bagi mereka ‘alay itu proses menuju dewasa’. Huh, padahalkan mereka udah mahasiswa semester 4 di jurusan masing-masing. Mereka bersekolah di fakultas Mulawarman. Ada yang jurusan Sastra, ada yang jurusan Teknologi, dan ada juga yang berjurusan Kedokteran. Mereka bersahabat sudah sejak SMP, mereka sempat berpisah saat SMA, di karenakan perbedaan kejuruan yang ada di sekolah yang berbeda. Tapi sekarang mereka kembali berkumpul di unuversitas ini, meskipun berbeda jurusan.
.
*
“woooo.. lama-lama ku tampah juga nih
kamu” kata wanita berambut lurus nan tebal ini.
“ tamparr woy!! Tampar..” sahut wanita
langsing yang satu ini.
“ahaha.. dasar begok, tampah itu ya di
buang, kita gak boleh mencemari lingkungan dengan tampah” sahut sang wanita
berambut pendek.
“udah deh jangan di lanjut lagi, nanti
tambah ngaco..” wanita langsing ini mengakhiri lelucon sahabat-sahabatnya ini.
“ahahaha iya deh iya” jawab keduanya
secara bersamaan.
Wanita yang berambut lurus nan tebal itu bernama Fita Caroline, panggil
saja Fita. Dan wanita yang satu lagi adalah si wanita langsing yang memiliki
nama Camila Laras yang terbiasa di panggil Mila. Dan wanita beramut pendek yang
terakhir mempunyai nama Nada Jannika yang sudah akrab di sapa Jenn.
“eh pulang yuk, udah sore nih” Fita berkata sambil melihat jam tangan coklatnya.
“wuuuuuu.. dasar anak manja,yaudah yuk” kini Mila berdiri
sambil menggandeng tas oranye miliknya.
“eh,eh.. trus yang bayar ini semua
siapa?” tanya Jenn sambil memasang tampang bertanya pada dua sahabatnya ini.
“ya kamu lah.. hahahhaa” sahut Fita
dan Mila yang kemudian berlari keluar café.
“aisssshhh , curang kalian” amuk Jenn
dari dalam café. Namun Fita dan Mila malah tertawa terbahak-bahak di luar café.
#di luar café
“ahahaha, ngenes banget tuh tampangnya
si Jenn” Fita tertawa sambil memegangi perutnya yang sudah sakit. Mila hanya
mengangguki setiap perkataan Fita.
Sesaat kemudian mereka terdiam melihat
Jenn keluar dari café dengan wajah yang sangat cemberut. Fita dan Mila hanya
tertawa kecil melihat ekspresi Jenn yang tak enak di lihat seperti itu.
“huh, kalian curang, udah makannya
banyak, eh malah aku yang makannya sedikit yang bayar.” Jenn cemberut sambil
melipat kedua tangannya di depan dada.
“maaf deh, lagi pula aku cuman dikit
kok, Fita tuh yang banyak makannya” Mila mulai mengatakan yang sebenarnya,
memang benar bahwa Fita lah yang paling banyak memborong makanan dan minuman.
Fita hanya cengengesan gak jelas dengan jari yang berbentuk huruf v.
“ehehe… iya deh, besok malam aku yang
traktir kalian, maaf ya Jenn” Fita akhirnya melihat dua sahabatnya itu
tersenyum. Huu dasar kalian ini, ucap Fita dalam hati.
“nahh.. gitu dong Jenn, senyum gini
kan cakep diliatnya, pulang yuk” Mila sudah merangkul dua sahabatnya ini menuju
parkiran motor yang di khusus kan untuk pengunjung café ini.
Motor mereka bertiga sudah terlihat
jelas dari jauh. Mereka menggunakan motor karna memang motor anti macet dan
bisa mempercepat perjalanan mereka.
“eh iya, besok malam janjian di café ini
lagi ya, aku yang traktir dehh,oke? aku duluan ya, bayyy” Fita kemudian pergi membawa motornya menuju tempat kostnya.
BRUUMMMM..
BRUUMMMM..
“yahh.. padahal kan aku gak bisa,”
Jenn berharap agar Fita mau mendengar jawabannya dulu. Tapi, ya begitulah Fita.
“aku juga, tapi nanti aku usahain dehh”
Mila mencoba meluangkan sedikit waktunya untuk sahabatnya itu, tapi ia
sepertinya akan sibuk untuk beberapa hari ini. kemudian mereka berdua diam, tak lama stelah itu Jenn pun mendekati Mila, seperti hendak berbisik.
“ssssttt Mil, waktu di dalam café tadi
aku ada ngeliat orang yang ngeliatin Fita mulu” Jenn mulai bergosip ria dengan alur berbicara yang berbisik, suaya tak di dengar oleh orang lain mungkin.
“hah? Cowok atau cewek?” Mila bertanya
dengan penasaran dan ikut berbisik.
“ya cowok lah..” Jenn menjawab dengan
mantab.
“ahh, palingan juga secret admirernya
si Fita, tumben banget tuh si Fita punya secret admirer,” Mila berbicara sambil
memakai heml miliknya.
“iya ya, ahh udah ah, pulang yuk, aku
duluan ya Mil, see you” Jenn memacu motornya terlebih dulu, tak lama kemudian
Mila pun ikut melesat pulang ke kost'annya.
walau bersahabat, tapi bukan berartikan mereka tinggal berdekatan?. ya, mereka berbeda kost-kost'an. katanya sih pengen mencoba mandiri dan ingin merasakan lingkungan yang baru.
#keesokan harinya di taman kampus
Mulawarman
Hari kamis ini adalah hari yang cerah,
meskipun sudah jam 11 siang tapi cuacanya masih belum terlalu terik. Bersantai sambil mengisi waktu luang di taman adalah waktu yang pas bagi tiga remaja ini. Tepatnya di sebuah gazebo yang memang telah di sediakan oleh pihak universitas di taman ini.
“Jenn, hari ini kamu ada pelajaran
apa? Kalo aku sih tentang pemograman biasa doang” Fita masih saja mengarahkan
pandangannya pada buku yang entah apa isinya, dan yang jelas tak dimengerti
oleh sahabat-sahabatnya itu.
“biasa lah, pengenalan organ tubuh”
sahut Jenn yang asik dengan tab miliknya.
“hmm… kalo kamu apa Mil?” tanya Fita
pada Mila yang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dya lakukan.
“ahh.. kamu kepo banget deh Fit jadi
orang, ini aku lagi nyelesein tugas bikin cerita rakyat nih dari pak Doni.
Jangan ganggu dulu deh” ujar Mila ngomel-ngomel.
Fita langsung diem, tapi dia malah
ngedumel gak jelas di balik bukunya.
“udah tau aku kepo, masih aja di
tanggepin” dumel Fita yang hampir tak bersuara.
“eh, denger-denger ada yang dapet
awards murid terpintar ya di jurusan sastra? Bener Mil?” tanya Jenn yang telah
selesai berkutik dengan tab miliknya.
“iya, tapi gak tau deh siapa” Mila
menjawabnya cuek, toh memang dya masa bodoh orangnya.
“oh my god, udah ampir jam 12, duluan
ya guys, bu Menix pasti udah nunggu di lab nihh, dadahh” Jenn lari-lari sambil
ngeliat jam tangan. Sedangkan sahabatnya? Masa bodoh dah.
“kamu gak ikut?” akhirnya Mila mengeluarkan
suaranya, Fita mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya yang satu ini. ehh
ternyata masih asik ama laptop toh, pikir Fita.
“gak, aku jam satu nanti kok” jawab
Fita seadanya, dya memang hanya menjawab singkat bila ia merasa kesal. Tak ada lagi
suara di antara keduanya, Dan suasana pun hening, sibuk dengan kegiatan masing-masing.
*satu setengah jam kemudian
Akhirnya jam satu pun tiba, Fita pun
sudah berdiri dan menyimpuni barang-barangnya, dan hendak pergi.
“Mil, aku minggat dulu yo. uwes jam
siji iki. babayy” ucap Fita sambil berjalan santai meninggalkan Mila sendiri di
saung-saungan yang ada di taman.
“dasar alay, mana aku ngerti bahasa
mu, whatever lahh” ucap Mila pelan dan kembali pada kesibukkannya yang entah tak pernah tuntas menurutnya. membosankan, begitulah menurutnya.
“misi, boleh kami duduk di sini?” Mila
mendengar suara itu. Perasaan suaranya satu deh, kok ‘kami’ sih, batin Mila.
“hmm..” sahut Mila seadanya karna
memang dya terlalu sibuk.
*25 menit berlalu,
tuuuuut tuuuuut.. telfon itu di angkat oleh Jenn.
Akhirnya laptop itu tertutup juga.
Mila melihat dua orang remaja pria sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Yang satu sedang browshingan sambil make hadsed dan yang satu lagi sangat
serius dalam menekuni bukunya. Sama seperti Jenn dan Fita saja, Mila berucap
dalam hati.
“ada apa?” suara itu keluar dari mulut
seorang pria yang sedang asik dengan handphonnya tadi.
“tidak, aku permisi ya” Mila sempat
salang tingkah karna ketahuan memerhatikan dua pemuda tadi. Mila pun berdiri
dan berjalan jauh dari gazebo tempat ia dan kawan-kawannya duduk tadi. Untung saja aku tak melting, ujar Mila
membatin….
@cafe chocolate
“kok lama banget sih mereka? Kemana dulu
sih?” gadis berponi layaknya anak TK ini mendengus kesal.
Fita menunggu kedua sahabatnya ini
dengan wajah yang sangat kusut, mereka kan padahal sudah janjian sejam yang lalu.
Jam 7 sampai jam 8 Fita harus duduk di sini sendirian. Huhh menunggu adalah
pekerjaan yang sangat ku benci, ini sungguh membosankan, awas saja kalian bila
sudah datang akan ku lipat 7 kaian berdua. Ucap Fita dalam hati yang sangat
menggebu-gebu.
Dua gelas hot chocolate sudah habis ia
teguk, dan sekarang yang ada di hadapannya adalah gelas yang ketiga, rasanya
saja ia sudah kenyang dengan semua hot chocolate yang ia minum.
“uuhh.. mana sih mereka? Apa aku pulang
aja ya? Ah tapi kalo mereka datang gimana dong? Aaahhh bingung?” rutuk Fita
sambil tertunduk. ia sungguh tak perduli bila di anggap sudah tak waras oleh pengunjung lain karna sikapnya yang aneh ini, suka ngomong sendiri.
“lebih baik kamu telfon saja mereka”
suara seorang pria tersebut membuat Fita mendongak dengan cepat.
“kamu siapa? kok tiba-tiba ada di
sini?” tatap Fika curiga pada pria di hadapannya itu. Pria itu bukannya
menjawab tapi malah tersenyum. Aneh, ucap Fika dalam hati.
“aku Gilang, aku hanya ingin duduk disini, boleh kah?” ucap pria yang bernama Gilang tersebut. Fita hanya meng'o'okan saja, tak mau perduli.
"ku dengar dari tadi kamu ngomel-ngomel terus soal teman mu, kenapa tak di telfon saja?" Gilang mengulang ucapannya barusan agar Fita bisa me-respecknya. Ya, Fita me-respecknya, cepat cepat ia mengeluarkan handphon miliknya dan mencari kontak yang bernama teman-temannya. Iya ya, kenapa tak ku telpon saja mereka, ahh bodohnya aku ini. Lagi-lagi Fita bergumam dalam hatinya.
"ku dengar dari tadi kamu ngomel-ngomel terus soal teman mu, kenapa tak di telfon saja?" Gilang mengulang ucapannya barusan agar Fita bisa me-respecknya. Ya, Fita me-respecknya, cepat cepat ia mengeluarkan handphon miliknya dan mencari kontak yang bernama teman-temannya. Iya ya, kenapa tak ku telpon saja mereka, ahh bodohnya aku ini. Lagi-lagi Fita bergumam dalam hatinya.
“baiklah, kau ada benarnya juga”
selesai berucap akhirnya Fita pun menelpon Mila terlebih dahulu.
tuuuut tuuuut..
“Fit, maaf ya aku gak bisa datang, ada
tugas yan harus aku kerjakan, maaf ya”
klikk..
Fita hanya melongo tak jelas, belum
lagi ia berbicara tapi sambungan telfon itu langsung putus.
“uhhh.. menyebalkan!” Fita hanya
memandang handphon miliknya dengan muka kesal, lalu ia mencoba menelphon temannya
yang satu lagi, yaitu Jenn.
"........."
“hehehe aja bisanya.. oke,sekarang aku mau tanya, kamu kemana sih kok gak dateng?” Fita bertanya dengan nada yang sedikit otoriter, karna memang terbawa oleh efek sebal yang di timbulkan Mila tadi. Tapi kenapa pula si Jenn yang harus kena imbasnya? aiiissssh malang nasib mu Jenn.
“hehehe aja bisanya.. oke,sekarang aku mau tanya, kamu kemana sih kok gak dateng?” Fita bertanya dengan nada yang sedikit otoriter, karna memang terbawa oleh efek sebal yang di timbulkan Mila tadi. Tapi kenapa pula si Jenn yang harus kena imbasnya? aiiissssh malang nasib mu Jenn.
“........”
“yaudah deh, salam aja buat mama mu dan keluarga mu
yang lain ya Jenn” terdengar sekali nada kecewa dari suara yang Fita keluarkan. Ia suah mulai bisa mengontrol emosinya tadi.
".........”
klikk..
Jenn mengakhiri sambungan telfon itu.
Dan terlihat sekali semburat kekecewaan di wajah gadis
ini. Pria yang bersamanya kini hanya bisa tersenyum simpul dan akan mencoba
menghibur gadis didepannya ini.
“huffhhh.. ya sudahlah” sungguh Fita tak menduga, ia
sudah seberusaha mungkin meninggalkan tugas-tugas dari para dosennya yang terbengkalai begitu saja di
atas meja belajarnya tadi, dan belum sempat ia menyelesaikannya.
“ya sudahlah, lagi pula ada aku yang akan menemanimu”
*
“Fit, maaf ya aku gak bisa datang, ada
tugas yang harus aku kerjakan, maaf ya”
Mila dengan cepat menutup sambungan
telfon itu sebelum orang di seberang sana berkoar-koar tak jelas padanya.
“modahan saja Jenn bisa menemani anak
itu” Mila berjalan dengan santainya memasuki gedung berwarna biru muda yang
menjulang ini. Di gedung ini rupanya sedang diadakan pemeran novel-novel
keluaran terbaru. Dan kalian jangan berpikir bila saat ini Mila sedang memakai gaun simple, salah, Mila hanya memakai cardigan hitam serta di lapisi teng top biru muda yang berlengan panjang dan celana jeans hitam yang polos, rambutnya pun hanya berkuncir kuda ditambah dengan tas ransel yang selalu menemaninya, simple bukan?
“oh my god.. sayang sekali bila ini
semua ku lewatkan..” gumam Mila di saat ia melihat banyaknya buku yang di
pamerkan di gedung yang menjulang itu.
sungguh menakjubkan bila ia dapat menjadi seperti para penulis novel-novel ini.
Mila berjalan kearah novel yang menurutnya amat menarik, terlihat dari sampulnya yang berwarna dasar putih dan gambar yang berwarna hitam lekat, seperti menggambarkan kesan kesedihan.
"hey, kita bertemu lagi rupanya, wah wah, sebuah kebetulan"
*
ddrrrrrrrtttt..drrrrrttt...
Handphon milik Jenn bergetar tiba-tiba
di dalam saku celana miliknya.
“aduhh siapa sih yang menelpon di saat
seperti ini? Gak ngerti orang lagi sibuk nonton apa?” Jenn mengomel tanpa
mengalih pandangannya dari layar televisi. setelah ada firasat yang mengatakan bahwa ia harus mengangkat telfon itu pun ia segera meraih telfonnya. matanya terbelalak, Fita menelfonnya, ia baru ingat bahwa ia ada janji dengan Fita dan ia membatalkan janji itu sesenaknya. oh my god, pasti Fita akan marah besar padanya.
klikkk..
Jenn terdiam sejenak, belum berani membuka mulutnya, ia takut Fita akan marah padanya.
“ehehehhe” akhirnya suara cengengesan sajalah yang Jenn keluarkan. Jujur saja, ia sangat takut bila Fita marah besar padanya.
".........."
“ehehehe.. ma’af Fit aku ada acara keluarga nih di rumah, ma’af banget ya kalo aku gak bisa datang” jujur saja kini Jenn merasa bersalah sendiri karna tak bisa menepati janjinya , padahalkan dya yang meminta ganti rugi malah dya yang gak datang. Eh tapi, Fita pun salah, sebab ia tak mau mendengar pendapat yang ingin Jenn sampaikan padanya kemaren sore. Sudah lah, biar saja kali ini Jenn yang bersalah.
".............."
“iya Fit, sekali lagi ma’af ya, udah ya aku udah di panggil tuh, babay”
klikk..
"huhh, selamat deh selamat" Jenn mengurut-ngurut dadanya sebagai tanda kelegaan yang ia rasakan. sungguh Fita yang pemaaf.
ddrrrrrrrrtttt.. dddrrrrrrtttt... ddddrrrrrtt..
bukannya Jenn tak tau bahwa handphon miliknya itu bergetar, karna handphon itu pun masih ia genggam dengan erat. Hanya saja nama yang tertera di layar handphon itu yang membuatnya terbengong ria, sungguh ia tak menduga apa yang ia lihat kini.
"keajaiban dunia kedelapan nih" Jenn masih saja tak mengangangkat telfon itu dan malah bergumam tak jelas bahkan geleng-geleng kepala sendiri.
"alamak, telfonnya belum gue angkat, aduhhh angkat gak yah? angkat aja dahh, ini langka juga"
kliiiikkk...
"halo, ini Jenn kan?"sapa orang di seberang sana
*
tunggu part selanjutnya yaaaa ^_^






