Kamis, 16 Januari 2014

Just You! No More *part 1

Mario stevano, orang yang berani tuk berjanji atas nama cinta. Dan pada akhirnya, janji itu jua yang membunuh dirinya. Bukan, bukan dirinya, melainkan hatinya. Semua dikarenakan oleh kebodohannya sendiri yang membiarkan gadisnya pergi dan berjanji akan menunggunya sampai gadisnya kembali, sekalipun orang yang di tunggunya bukan miliknya lagi.

Hidup memang penuh drama

Hidup memang penuh dengan rintangan

Tapi yakinlah, Tuhan tau yang terbaik..

**************

In Bandung City

Senin, 4 Juni, 02:00 siang, bukit ilalang

“Ify, aku suka kamu, tapi apa kamu mau untuk membalas rasaku ini?” seorang Mario menyatakan perasaannya pada orang pertama yang membuatnya jatuh cinta.

Cukup lama untuk menuggu jawaban. Padahal lututnya sudah mulai keram karna terlalu lama berlutut ala lelaki yang biasa menyatakan cinta. Seperti di film-film. Sedangkan wanita di hadapannya tak kunjung menjawab, tapi malah menghembuskan nafas ringannya berkali-kali. Mungkin gugup. Mungkin.

“kamu hanya suka? Tidak cinta ataupun sayang?” satu tarikkan nafas,tapi melontarkan beberapa pertanyaan. Wanita dihadapan Mario kini akhirnya berbicara.

Mendengar pertanyaan semacam itu Mario jadi bingung sendiri, ia tahu bila ia salah dalam menyatakkan cinta pada seorang wanita. Maklum,baru pertama kali.
“maksud aku, aku suka, cinta, dan sayang sama kamu. Dan aku tanya sekali lagi, maukah kamu membalas perasaanku dan menjadi pacarku ?” kali ini, Mario menjelaskannya panjang lebar agar wanita didepannya ini bisa segera menjawab dan ia bisa merenggangkan otot lututnya yang terasa kaku.

Wanita didepannya itu mengangguk tanda setuju dan berucap “oke, aku mau” wanita itu menjawabnya dengan lancar dan fasih. Dan sekarang, Ify alyssa-wanita- resmi menjadi pacar Mario Stevano.

Dengan semangat yang menggebu-gebu Mario berdiri, lalu membersihkan celana biru khas seragam anak SMP yang dikenakannya pada saat itu. Sedetik kemudian ia merangkul pacar barunya-Ify-. “duduk dulu yuk, capek nih” ucap Mario yang berterus terang merasakan penat di persendian lututnya, Ify mengangguk sambil tersenyum  tanda ia meng-iyakan ajakan Mario.

Mereka berdua akhirnya duduk lesehan diatas rumput ilalang yang menguning, sambil menikmati angin sore yang berhembus menerpa wajah keduanya. Dan hanya diatas bukit ilalang inilah yang menjadi saksi awal kisah cinta mereka.

“Rio” gadis ini masih berada dalam rangkulan Mario, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh lelaki muda itu.
“hmmm” hanya dengan gumam-an Mario menjawab, tetapi suaranya terdengar lembut di telinga Ify. Dan matanya pun masih setia memandang hamparan atap rumah yang berjejer di bawah bukit.
Gadis dalam rangkulan Mario mendongak, menatap wajah hitam manis yang sekarang menjadi miliknya. Walaupun belum pasti untuk selamanya.

“aku sayang kamu” tiga kata yang keluar, tiga kata sederhana namun bermakna lebih. Tapi gadis ini mengucapkannya.
Mario menoleh menatap gadisnya itu sambil tersenyum, mereka saling tatap untuk beberapa saat sampai kemudian Mario berucap, “aku lebih sayang kamu, walau kita nggak sama-sama lagi, i always love you”

Ify tersemyum, “love you too”
Sore itu adalah Sore yang indah, sore yang berarti bagi mereka.

*********

Esok paginya (selasa, 5 juni)

Ify sedang berjalan di koridor, hendak menuju kelasnya sampai suara seseorang menghentikan lanhkahnya, “kak, kak tunggu kak”

Ify berhenti dan menoleh kebelakang. Ify melihat adik kelasnya tapi tak tau siapa nama anak itu. Anak itu imut sekali dengan rambut yang ia kuncir dua dan ransel berwarna baby pink yang di rangkulnya. Manis, ucap Ify dalam hati.
“ada apa?” tanya Ify dengan halus. Adik kelasnya tersenyum sumringah, ternyata baik juga kakak ini, ia membatin.

“kakak mau ikut aku sebentar gak? Janji deh kakak gak aku apa-apain” gadis mungil itu menunjukkan tangan kanannya dan di bentuknya jari yang berlambang ‘v’.
Ify tersenyum lalu mengangguk dan membuat gadis mungil di depannya itu tersenyum riang. Dan dengan cepat gadis itu manarik tangan Ify, membawanya menuju halaman belakang sekolah.

@halaman belakang SMP Rajawali II

Adik kelasnya itu menarik Ify sampai kebangku taman yang berada di bawah naungan pohon akasia. Dan ketika sudah duduk santai dengan posisi yang nyaman, Ify lalu mengeluarkan suaranya sebagai pembuka pembicaraan, “ada apa nih? Kok pake kesini segala?” tanya Ify bingung.

“oya pertama-tama kenalin kak,” gadis itu mengulurkan tangan mungilnya dan kemudian di sambut hangat oleh Ify. “aku Via, nama kakak Ify kan?” lanjutnya.
Ify mengangguk, “iya, kamu angkatan barukan? Kok tau nama aku? Aku kan gak populer di sini” tanya Ify heran. Gadis mungil di depan Ify yang bisa di sapa Via ini tersenyum lebar sambil perlahan menarik tangannya kembali.

“kata ka Rio, kakak itu pacarnya dya, emang bener?” Via berkata dengan berbisik, takut ada yang dengar.
Seketika mata bulat Ify melotot tak percaya, bagaimana anak kecil ini tau? Padahal ia dan Rio kan sepakat untuk menjalin hubungan diam-diam dan hanya memberi tahu orang-orang tertentu. Rio hanya memberi tahu adiknya dan Ify hanya kepada sahabatnya. Dan kenapa anak kecil ini bisa tahu? kecuali dya.....

“kamu adiknya Rio ya?”tanya Ify to the poin. Kanapa ia bisa bertanya begitu? Soalnya dulu Rio pernah cerita kalo dya itu selalu curhat sama adeknya. Dan ya jelas dong kalo adeknya tauu semua aibnya Rio. Well, ternyata Via mengangguk.

“ayo kak jawab pertanya’an ku yang tadi dong. Aku takut kak Rio bo’ong” Via memasang muka melas, itulah jurus andalannya supaya orang bisa mengasihani dirinya dan memberi apa yang ia minta. Sungguh gadis mungil yang licik, pikir Ify geli.
“iya Via, kakak pacarnya kak Rio, tapi Via janji ya jangan bilang siapa-siapa, nanti yang ada malah rusuh, janji?” Ify mengangkat tangannya lalu hanya jari kelingking yang diangkatnya, menunggu sebuah jari yang akan menyambut kelingkingnya sebagai ikatan janji.

Via tanpa pikir panjang ikut mengaitkan jari kelingking tangannya untuk kemudian bertautlah jari kelingking mereka. “janji”

***********

@kelas IX-F

Keada’an kelas Ify sangat ricuh hari ini, selain membicarakan soal rapor yang kemarin bermasalah ternyata teman-temannya juga ada yang bergosip tentang si macho yang berada di kelas seberang, kelas IX-A.
Sebenarnya Ify tau siapa yang mereka bicarakan. Yang mereka bicarakan itu Rio, anak super duper cerdas di kelas IX, liat aja tuh si Rio aja di kelas unggulan. Sebenarnya dalam hati Ify eli sendiri mendengar kasak-kusuk pembicara’an teman-temannya dengan nada putus asa dan kecewa.

“mereka ngegosipin apa’an sih Ag?” tanya Ify sok polos ada Agni yang tadi memang sedang ngobrol dengan Dayat didekat meja rumpi langganan cewek penggosip.

Agni duduk disamping Ify dan meletakkan tas selempangnya di laci, “itulohh, Rio si anak sebelah kabarnya udah punya pacar, jadi kusut deh tuh muka cewek-cewek” Agni ngerasa gak perduli dengan yang begituan, menurutnya itu urusan orang , jadi dya gak berhak ikut campur, oya toh?

“oh gitu, yaaahhhh kecewa deh aku, padahalkan aku pengggila beratnya Rio” Ify berucap sambil memajang wajah sok kecewanya dan tertunduk lesu, membuat Agni harus terkikik kecil.
Agni menyenggol siku Ify, “dasar kamu, pinter banget kamu bersandiwara, dasar licik” ucap Agni sambil tertawa. Ify pun mendongak dan balas menyenggol siku Agni pelan.

“hussst diem deh, entar ketahuan bisa di keroyok aku” Ify lagi-lagi berlagak sok khawatir, padahalkan Rio pasti dengan senantiasa akan membelanya dann melindunginya.

Agni dan Ify berpandangan sebentar, alu kembali tertawa atas kebodohan obrolan mereka. “ahahhahahhaha.....”

********************

To be continue

Ehehe maap yak pendek, lagi gak mood ini

Rabu, 27 November 2013

catatan buat kak Sofy, IFC serta SOFY CLUB

taadddaaaaa :D kali ini aku bakal ngepost tentang kak sofy yang mirippp banget ama teteh Ify,. maaf ya kalo cerbungnya ngarett dulu, belum ada ide soalnya, yaudah deh gak usah banyak bacot, sekarang mari kita saksikan foto-foto kak Sofy yang cakep inihhhh..

cekidottt


















nahhh, setelah foto-fotonya, sekarang marii kita intip biodata kak Sofy ini



kak Sofy itu...

nama lengkapnya Sofy Amalia
Masih Kelas  2 SMA,
Dya lahir di Jakarta pada tnggal 20 bulan Maret  di tahun 1997,
kak Sofy sekolah di MAN 11 JAKARTA (pondok labu),
sekarang kak Sofy tinggal dipondok pinang
warna favoritenya ituh  hijau tosca & pink tua
dya suka banget makan spagheti,nasi goreng,mie & salad buah,
truss minuman favoritenya ituhh lemon tea,yogurth,mocca & tropical float
Hobbynya kak Sofy adalah dengerin musik blink and singing
kak sofy itu punya twitter, dan twitternya itu @sofyamalia
fb.nya kak sofy itu "sofy amalia ifc"
yapps, kak sofy juga anak IFC, 
so, follow atau add kak sofy sekarang ya, kak sofy juga punya fp kok di fb, 'sofy club', coba dehhh,.


segini dulu yahhh,. babay,. emmuachhh :D


Selasa, 29 Oktober 2013

pelangi sahabat *1






*
*

“ahahahahahahaha” tiga mahasiswi itu asik tertawa renyah di sebuah café. Tak perduli dengan apa kata orang. Tertawa terbahak-bahak adalah kebiasa’an mereka bertiga. Meskipun kata kebanyakan orang mereka itu ‘alay’. Tapi bagi mereka ‘alay itu proses menuju dewasa’. Huh, padahalkan mereka udah mahasiswa semester 4 di jurusan masing-masing. Mereka bersekolah di fakultas Mulawarman. Ada yang jurusan Sastra, ada yang jurusan Teknologi, dan ada juga yang berjurusan Kedokteran. Mereka bersahabat sudah sejak SMP, mereka sempat berpisah saat SMA, di karenakan perbedaan kejuruan yang ada di sekolah yang berbeda. Tapi sekarang mereka kembali berkumpul di unuversitas ini, meskipun berbeda jurusan.
.
*

“woooo.. lama-lama ku tampah juga nih kamu” kata wanita berambut lurus nan tebal ini.
“ tamparr woy!! Tampar..” sahut wanita langsing yang satu ini.
“ahaha.. dasar begok, tampah itu ya di buang, kita gak boleh mencemari lingkungan dengan tampah” sahut sang wanita berambut pendek.
“udah deh jangan di lanjut lagi, nanti tambah ngaco..” wanita langsing ini mengakhiri lelucon sahabat-sahabatnya ini.
“ahahaha iya deh iya” jawab keduanya secara bersamaan.
  Wanita yang berambut lurus nan tebal itu bernama Fita Caroline, panggil saja Fita. Dan wanita yang satu lagi adalah si wanita langsing yang memiliki nama Camila Laras yang terbiasa di panggil Mila. Dan wanita beramut pendek yang terakhir mempunyai nama Nada Jannika yang sudah akrab di sapa Jenn.
“eh pulang yuk, udah sore nih” Fita  berkata sambil melihat jam tangan coklatnya.
“wuuuuuu.. dasar anak manja,yaudah yuk” kini Mila berdiri sambil menggandeng tas oranye miliknya.
“eh,eh.. trus yang bayar ini semua siapa?” tanya Jenn sambil memasang tampang bertanya pada dua sahabatnya ini.
“ya kamu lah.. hahahhaa” sahut Fita dan Mila yang kemudian berlari keluar café.
“aisssshhh , curang kalian” amuk Jenn dari dalam café. Namun Fita dan Mila malah tertawa terbahak-bahak di luar café.


#di luar café

“ahahaha, ngenes banget tuh tampangnya si Jenn” Fita tertawa sambil memegangi perutnya yang sudah sakit. Mila hanya mengangguki setiap perkataan Fita.
Sesaat kemudian mereka terdiam melihat Jenn keluar dari café dengan wajah yang sangat cemberut. Fita dan Mila hanya tertawa kecil melihat ekspresi Jenn yang tak enak di lihat seperti itu.
“huh, kalian curang, udah makannya banyak, eh malah aku yang makannya sedikit yang bayar.” Jenn cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“maaf deh, lagi pula aku cuman dikit kok, Fita tuh yang banyak makannya” Mila mulai mengatakan yang sebenarnya, memang benar bahwa Fita lah yang paling banyak memborong makanan dan minuman. Fita hanya cengengesan gak jelas dengan jari yang berbentuk huruf v.
“ehehe… iya deh, besok malam aku yang traktir kalian, maaf ya Jenn” Fita akhirnya melihat dua sahabatnya itu tersenyum. Huu dasar kalian ini, ucap Fita dalam hati.
“nahh.. gitu dong Jenn, senyum gini kan cakep diliatnya, pulang yuk” Mila sudah merangkul dua sahabatnya ini menuju parkiran motor yang di khusus kan untuk pengunjung café ini.
Motor mereka bertiga sudah terlihat jelas dari jauh. Mereka menggunakan motor karna memang motor anti macet dan bisa mempercepat perjalanan mereka.
“eh iya, besok malam janjian di café ini lagi ya, aku yang traktir dehh,oke? aku duluan ya, bayyy” Fita kemudian pergi membawa motornya menuju tempat kostnya.
BRUUMMMM..
“yahh.. padahal kan aku gak bisa,” Jenn berharap agar Fita mau mendengar jawabannya dulu. Tapi, ya begitulah Fita.
“aku juga, tapi nanti aku usahain dehh” Mila mencoba meluangkan sedikit waktunya untuk sahabatnya itu, tapi ia sepertinya akan sibuk untuk beberapa hari ini. kemudian mereka berdua diam, tak lama stelah itu Jenn pun mendekati Mila, seperti hendak berbisik.
“ssssttt Mil, waktu di dalam café tadi aku ada ngeliat orang yang ngeliatin Fita mulu” Jenn mulai bergosip ria dengan alur berbicara yang berbisik, suaya tak di dengar oleh orang lain mungkin.
“hah? Cowok atau cewek?” Mila bertanya dengan penasaran dan ikut berbisik.
“ya cowok lah..” Jenn menjawab dengan mantab.
“ahh, palingan juga secret admirernya si Fita, tumben banget tuh si Fita punya secret admirer,” Mila berbicara sambil memakai heml miliknya.
“iya ya, ahh udah ah, pulang yuk, aku duluan ya Mil, see you” Jenn memacu motornya terlebih dulu, tak lama kemudian Mila pun ikut melesat pulang ke kost'annya.
walau bersahabat, tapi bukan berartikan mereka tinggal berdekatan?. ya, mereka berbeda kost-kost'an. katanya sih pengen mencoba mandiri dan ingin merasakan lingkungan yang baru.


#keesokan harinya di taman kampus Mulawarman
Hari kamis ini adalah hari yang cerah, meskipun sudah jam 11 siang tapi cuacanya masih belum terlalu terik. Bersantai sambil mengisi waktu luang di taman adalah waktu yang pas bagi tiga remaja ini. Tepatnya di sebuah gazebo yang memang telah di sediakan oleh pihak universitas di taman ini.
“Jenn, hari ini kamu ada pelajaran apa? Kalo aku sih tentang pemograman biasa doang” Fita masih saja mengarahkan pandangannya pada buku yang entah apa isinya, dan yang jelas tak dimengerti oleh sahabat-sahabatnya itu.
“biasa lah, pengenalan organ tubuh” sahut Jenn yang asik dengan tab miliknya.
“hmm… kalo kamu apa Mil?” tanya Fita pada Mila yang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dya lakukan.
“ahh.. kamu kepo banget deh Fit jadi orang, ini aku lagi nyelesein tugas bikin cerita rakyat nih dari pak Doni. Jangan ganggu dulu deh” ujar Mila ngomel-ngomel.
Fita langsung diem, tapi dia malah ngedumel gak jelas di balik bukunya.
“udah tau aku kepo, masih aja di tanggepin” dumel Fita yang hampir tak bersuara.
“eh, denger-denger ada yang dapet awards murid terpintar ya di jurusan sastra? Bener Mil?” tanya Jenn yang telah selesai berkutik dengan tab miliknya.
“iya, tapi gak tau deh siapa” Mila menjawabnya cuek, toh memang dya masa bodoh orangnya.
“oh my god, udah ampir jam 12, duluan ya guys, bu Menix pasti udah nunggu di lab nihh, dadahh” Jenn lari-lari sambil ngeliat jam tangan. Sedangkan sahabatnya? Masa bodoh dah.
“kamu gak ikut?” akhirnya Mila mengeluarkan suaranya, Fita mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya yang satu ini. ehh ternyata masih asik ama laptop toh, pikir Fita.
“gak, aku jam satu nanti kok” jawab Fita seadanya, dya memang hanya menjawab singkat bila ia merasa kesal. Tak ada lagi suara di antara keduanya, Dan suasana pun hening, sibuk dengan kegiatan masing-masing.

*satu setengah jam kemudian

Akhirnya jam satu pun tiba, Fita pun sudah berdiri dan menyimpuni barang-barangnya, dan hendak pergi.
“Mil, aku minggat dulu yo. uwes jam siji iki. babayy” ucap Fita sambil berjalan santai meninggalkan Mila sendiri di saung-saungan yang ada di taman.
“dasar alay, mana aku ngerti bahasa mu, whatever lahh” ucap Mila pelan dan kembali pada kesibukkannya yang entah tak pernah tuntas menurutnya. membosankan, begitulah menurutnya.
“misi, boleh kami duduk di sini?” Mila mendengar suara itu. Perasaan suaranya satu deh, kok ‘kami’ sih, batin Mila.
“hmm..” sahut Mila seadanya karna memang dya terlalu sibuk.


*25 menit berlalu,
tuuuuut tuuuuut.. telfon itu di angkat oleh Jenn.


Akhirnya laptop itu tertutup juga. Mila melihat dua orang remaja pria sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Yang satu sedang browshingan sambil make hadsed dan yang satu lagi sangat serius dalam menekuni bukunya. Sama seperti Jenn dan Fita saja, Mila berucap dalam hati.
“ada apa?” suara itu keluar dari mulut seorang pria yang sedang asik dengan handphonnya tadi.
“tidak, aku permisi ya” Mila sempat salang tingkah karna ketahuan memerhatikan dua pemuda tadi. Mila pun berdiri dan berjalan jauh dari gazebo tempat ia dan kawan-kawannya duduk tadi. Untung saja aku tak melting, ujar Mila membatin….



@cafe chocolate
“kok lama banget sih mereka? Kemana dulu sih?” gadis berponi layaknya anak TK ini mendengus kesal.
Fita menunggu kedua sahabatnya ini dengan wajah yang sangat kusut, mereka kan padahal sudah janjian sejam yang lalu. Jam 7 sampai jam 8 Fita harus duduk di sini sendirian. Huhh menunggu adalah pekerjaan yang sangat ku benci, ini sungguh membosankan, awas saja kalian bila sudah datang akan ku lipat 7 kaian berdua. Ucap Fita dalam hati yang sangat menggebu-gebu.
Dua gelas hot chocolate sudah habis ia teguk, dan sekarang yang ada di hadapannya adalah gelas yang ketiga, rasanya saja ia sudah kenyang dengan semua hot chocolate yang ia minum.
“uuhh.. mana sih mereka? Apa aku pulang aja ya? Ah tapi kalo mereka datang gimana dong? Aaahhh bingung?” rutuk Fita sambil tertunduk. ia sungguh tak perduli bila di anggap sudah tak waras oleh pengunjung lain karna sikapnya yang aneh ini, suka ngomong sendiri.
“lebih baik kamu telfon saja mereka” suara seorang pria tersebut membuat Fita mendongak dengan cepat.
“kamu siapa? kok tiba-tiba ada di sini?” tatap Fika curiga pada pria di hadapannya itu. Pria itu bukannya menjawab tapi malah tersenyum. Aneh, ucap Fika dalam hati.
“aku Gilang, aku hanya ingin duduk disini, boleh kah?” ucap pria yang bernama Gilang tersebut. Fita hanya meng'o'okan saja, tak mau perduli.
"ku dengar dari tadi kamu ngomel-ngomel terus soal teman mu, kenapa tak di telfon saja?" Gilang mengulang ucapannya barusan agar Fita bisa me-respecknya. Ya, Fita me-respecknya, cepat cepat ia mengeluarkan handphon miliknya dan mencari kontak yang bernama teman-temannya. Iya ya, kenapa tak ku telpon saja mereka, ahh bodohnya aku ini. Lagi-lagi Fita bergumam dalam hatinya.
“baiklah, kau ada benarnya juga” selesai berucap akhirnya Fita pun menelpon Mila terlebih dahulu.
tuuuut tuuuut..
“Fit, maaf ya aku gak bisa datang, ada tugas yan harus aku kerjakan, maaf ya”
klikk..

Fita hanya melongo tak jelas, belum lagi ia berbicara tapi sambungan telfon itu langsung putus.
“uhhh.. menyebalkan!” Fita hanya memandang handphon miliknya dengan muka kesal, lalu ia mencoba menelphon temannya yang satu lagi, yaitu Jenn.

“jangan berbicara sebelum aku berbicara” sahut Fita secara cepat. sedangkan pria yang berada di depannya itu hanya tertawa geli melihat gadis unik di depannya ini. 
"........."
“hehehe aja bisanya.. oke,sekarang aku mau tanya, kamu kemana sih kok gak dateng?” Fita bertanya dengan nada yang sedikit otoriter, karna memang terbawa oleh efek sebal yang di timbulkan Mila tadi. Tapi kenapa pula si Jenn yang harus kena imbasnya? aiiissssh malang nasib mu Jenn.
“........” 
“yaudah deh, salam aja buat mama mu dan keluarga mu yang lain ya Jenn” terdengar sekali nada kecewa dari suara yang Fita keluarkan. Ia suah mulai bisa mengontrol emosinya tadi.
".........” 
klikk..

Jenn mengakhiri sambungan telfon itu.
Dan terlihat sekali semburat kekecewaan di wajah gadis ini. Pria yang bersamanya kini hanya bisa tersenyum simpul dan akan mencoba menghibur gadis didepannya ini.
“huffhhh.. ya sudahlah” sungguh Fita tak menduga, ia sudah seberusaha mungkin meninggalkan tugas-tugas dari para dosennya yang terbengkalai begitu saja di atas meja belajarnya tadi, dan belum sempat ia menyelesaikannya.
“ya sudahlah, lagi pula ada aku yang akan menemanimu”

*

“Fit, maaf ya aku gak bisa datang, ada tugas yang harus aku kerjakan, maaf ya” 
Mila dengan cepat menutup sambungan telfon itu sebelum orang di seberang sana berkoar-koar tak jelas padanya.
“modahan saja Jenn bisa menemani anak itu” Mila berjalan dengan santainya memasuki gedung berwarna biru muda yang menjulang ini. Di gedung ini rupanya sedang diadakan pemeran novel-novel keluaran terbaru. Dan kalian jangan berpikir bila saat ini Mila sedang memakai gaun simple, salah, Mila hanya memakai cardigan hitam serta di lapisi teng top biru muda yang berlengan panjang dan celana jeans hitam yang polos, rambutnya pun hanya berkuncir kuda ditambah dengan tas ransel yang selalu menemaninya, simple bukan?
“oh my god.. sayang sekali bila ini semua ku lewatkan..” gumam Mila di saat ia melihat banyaknya buku yang di pamerkan di gedung yang menjulang itu.
sungguh menakjubkan bila ia dapat menjadi seperti para penulis novel-novel ini. 
Mila berjalan kearah novel yang menurutnya amat menarik, terlihat dari sampulnya yang berwarna dasar putih dan gambar yang berwarna hitam lekat, seperti menggambarkan kesan kesedihan.
"hey, kita bertemu lagi rupanya, wah wah, sebuah kebetulan"

*

ddrrrrrrrtttt..drrrrrttt...
Handphon milik Jenn bergetar tiba-tiba di dalam saku celana miliknya.


“aduhh siapa sih yang menelpon di saat seperti ini? Gak ngerti orang lagi sibuk nonton apa?” Jenn mengomel tanpa mengalih pandangannya dari layar televisi. setelah ada firasat yang mengatakan bahwa ia harus mengangkat telfon itu pun ia segera meraih telfonnya. matanya terbelalak, Fita menelfonnya, ia baru ingat bahwa ia ada janji dengan Fita dan ia membatalkan janji itu sesenaknya. oh my god, pasti Fita akan marah besar padanya.
klikkk..
Jenn terdiam sejenak, belum berani membuka mulutnya, ia takut Fita akan marah padanya. 
“ehehehhe” akhirnya suara cengengesan sajalah yang Jenn keluarkan. Jujur saja, ia sangat takut bila Fita marah besar padanya.
".........."
“ehehehe.. ma’af Fit aku ada acara keluarga nih di rumah, ma’af banget ya kalo aku gak bisa datang” jujur saja kini Jenn merasa bersalah sendiri karna tak bisa menepati janjinya , padahalkan dya yang meminta ganti rugi malah dya yang gak datang. Eh tapi, Fita pun salah, sebab ia tak mau mendengar pendapat yang ingin Jenn sampaikan padanya kemaren sore. Sudah lah, biar saja kali ini Jenn yang bersalah.
".............."
“iya Fit, sekali lagi ma’af ya, udah ya aku udah di panggil tuh, babay” 
klikk..

"huhh, selamat deh selamat" Jenn mengurut-ngurut dadanya sebagai tanda kelegaan yang ia rasakan. sungguh Fita yang pemaaf. 

ddrrrrrrrrtttt.. dddrrrrrrtttt... ddddrrrrrtt..
bukannya Jenn tak tau bahwa handphon miliknya itu bergetar, karna handphon itu pun masih ia genggam dengan erat. Hanya saja nama yang tertera di layar handphon itu yang membuatnya terbengong ria, sungguh ia tak menduga apa yang ia lihat kini.
"keajaiban dunia kedelapan nih" Jenn masih saja tak mengangangkat telfon itu dan malah bergumam tak jelas bahkan geleng-geleng kepala sendiri.
"alamak, telfonnya belum gue angkat, aduhhh angkat gak yah? angkat aja dahh, ini langka juga"
kliiiikkk...
"halo, ini Jenn kan?"sapa orang di seberang sana

*

tunggu part selanjutnya yaaaa ^_^


Kamis, 24 Oktober 2013

i cry for you (ReGi= Rego angGi)

okeyyy.. enjoyy iin my blogger ^_^
maaf ya kalo typo bertebaran dan tulisannya masih acakadul.
langsung ajalah di baca
c
e
k
i
d
o
t


******

 Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta,,
Tapi dengan cara yang berbeda tentunya,,
Yaitu misalnya seperti seseorang yang merasakan indahnya cinta dan pahitnya cinta,,
Merasakan indahnya cinta itu rasanya seakan-akan dunia milik berdua , yang lain ngontrakk,,
Tapi bila merasakan pahitnya seakan-akan kita serasa menelan pil pahit , pahitt sekali,,
 Ternyata memang benar apa kata orang,,
Tak ada satupun cerita cinta yang terhindar dari air mata,,
 Cinta itu butuh kekuatan di pondasinya , dan pondasi cinta itu adalah kesetia’an dan kepercaya’an kepada satu-sama lain,,


 Tapi percayalah , segala coba’an yang di beri tuhan adalah ujian,,
Tuhan hanya ingin menguji seberapa kuat pondasi cinta mu,,
 Orang-orang juga sering bilang bahwa cinta itu buta & tuli,,
Dan bila kita sudah masuk dalam drama cinta kita sendiri maka pasti kita tak sadarkan diri , karna kita akan melakukan apa pun demi cinta,,
 Love is stupid , love is crazy , love is foolish , and love is all of them,,







    
 Di sini , di balkon , aku sedang melamunkan masa lalu ku yang mungkin sangat amat menyedihkan..
“Huhftt..” aku membuang nafas dengan berat.
 Sesak , yeah sesaklah yang kini ku rasakan , aku mungkin terlalu larut dalam kesedihan ini , tapi kurasa aku tak bisa kembali seperti dulu tanpanya..
 Ya , dialah penyebabnya , dialah yang membuat ku seperti ini , tapi aku tak menyalahkanya , karna ini lah takdirku..
“sekarang kamu dimana??” mataku kini sudah berlinang , air mata ini rasanya ingin jatuh , tapi aku berusaha untuk menahanya.
“ku mohon kembalilah , kembali pada ku , aku sangat merindukan  mu” kini ku memutar memori masa lalu ku , dimana pada sa’at itu adalah awal pertemuan ku dengannya.
----flashback----
 Hari ini adalah hari pertama MOS atau Masa Orientasi Siswa. Semua murid dari mana pun berkumpul di sini..
 Ya , mereka sekarang berada di SMAN7 , dan kini mereka sudah berkumpul di halaman sekolah..
 Di suatu tempat , ada seorang remaja lelaki yang kini sedang memperhatikan seorang remaja putri dari kejauhan. Entah apa yang membuatnya tertarik pada lawan jenisnya itu..
‘maniss’ ujarnya dalam hati
 Pria ini bernama Gregorius Sapungan , panggil saja dya Rego , dya memiliki postur tubuh yang jangkung , kulitnya putih , tapi sayangnya dya cenderung pemalu. Ya , beginilah dya.
“hoy Go!!, ngapain kamu bengong kayak gitu??,” tegur Brian. Seketika itu, Rego pun terbangun dari lamunanya.
“eeh , gak kok , gak-papa” ujar Rego yang sedang terlihat kikuk. Brian tak semudah itu percaya pada Rego , Brian pun mengikuti arah pandang Rego. Dan yapp, Brian kini tau apa yang di perhatikan oleh Rego.
“ahha!! , kamu naksir dya ya Go??” tebak Brian sambil tersenyum jail pada Rego. Dan tebakan Brian benar, semburat warna jingga kemerahan keluar dari pipi Rego.
“bhahahahahaha, ciee ciee” olok Brian.
“eh eh eh , ada apa nih?? , wahh akku ketinggalan berita nih , ada apa nihh??” timbrung eric yang datang tiba-tiba.
“ini loh rik , si Rego ternyata lagi naksir gituh ama cewek” sahut Brian. Mata Rego langsung melotot ketika tahu rahasianya terbongkar.
“wahh , itu bener Go??” Tanya Erik pada Rego. Rego hanya mampu mengangguk malu.
“emangnya kamu naksir yang mana sih” Tanya Erik (lagi). Dan di anggguki oleh Brian.
“emmh.. yang itu , yang pake kerudung putih , yang  item manis” sahutnya malu. Erik hanya ngangguk-ngangguk tanda mengerti.
“kamu kenapa ngangguk-ngangguk rik?? , kesambet yah??” ujar Brian sembarangan
Tuingggg…
Sebuah toyoran mendarat di kepala Brian. Ya , Brian ditoyor oleh Erik.
“heh , sembarangan kamu kalo ngomong. Aku tuh ngangguk-ngangguk karna aku kenal ama tuh cewek..” ujar Erik sewot. Rego seketika langsung melotot (lagi) ketika dia tau kalau Erik mengenali wanita puja’anya.
“yang bener kamu kenal dia Rik???” Tanya Rego gak nyantei. Erik hanya mengangguk dengan bangga.
“iya aku kenal dia. Tapi aku gak terlalu kenal dia. Tapi tenang , biar aku yang cari’in inform tetang dia” ujar Erik yang mampu membuat senyum di wajah Rego.
“cieee.. congrats ya Go..” olok Brian.
“hehe.. iya..” sahut Rego malu-malu
----flashback on---
“hhuhhh..” aku menarik nafas berat.
Sekarang aku tersenyum sendiri walaw air mata masih berlinang di pelupuk mata ku. Aku tersenyum sa’at ku mengingat kejadian pertama kali ku melihatnya. Ya , mungkin cinta pada pandang pertama lahh yang dulu kurasakan.
Dan sesa’at kemudian aku tertawa renyah sa’at memori ku mengingat kembali kejadian itu. Pada waktu itu dya cemburu buta pada ku dan kawan sebangku ku. Padahal waktu itu kami hanya sedang bergurau saja. Haha , benar-benar memo yang indah.
“haha , aku masih mengingatnya” ujar ku sambil tertawa walaw hati ku menangis.
---flashback---
Kini rego dan anggi berada di aula belakang sekolah , yang ada di sini hanya mereka berdua.
“kamu kenapa yank?? , kok cemberut gitu mukanya??” Tanya rego hati-hati pada sang kekasih. Ya , kekasihnya bernama Adhevia Anggita. Mereka berdua berbeda kelas. Anggi IPS 2 dan Rego di kelas IPA 3.
“aku cemberut gara-gara kamu selingkuh.” Sahut Anggi  kesal.
“hahh?? , aku selingkuh?? , ama siapa??” tanggap Rego dengan raut wajah yang terkaget-kaget. Pasalnya , ia tak pernah sekalipun menyelinkuh dari Anggi.
“ihh , kamu tuh pura-pura gak tau apa memang gak tau sihh??” gereget Anggi pada alur bicara Rego yang sama-sekali tak ia mengerti.
“lohh.. aku emang gak ngerti kok” bingung Rego
“iiihhh.. kamu tadi kenapa sih mesra banget ama si clara??” ucap Anggi akhirnya.

Plukk..
Rego memukul jidatnya. Entah apa yang membuatnya untuk melakukan itu.
“astaga!! , ternyata yang itu , kita cuman becanda kokk..” ujar Rego yang sa’at itu terlihat ragu dengan tatapan curiga Anggi yang di tujukan padanya.
“benerr???” selidik Anggi dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
“suerrr dehh , bahkan seribu suerr. Percayakan ama aku??” ucap Rego sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengahnya untuk membentuk huruf V.
“heemmm.. oke! , kali ini aku percaya ama kamu.” Ujar Anggi akhirnya. Rego pun tersenyum lega.
“akhirnya..” ujar Rego lega.
“huuu… kali ini aku peercaya ama kamu , tapi untuk yang setarusnya aku gak akan percaya lagi .” ancam Anggi. Seketika Rego langsung murung , tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum lebar karna kali ini ia beruntung karna ia masih bisa memegang kepercayaan yang di beri Anggi padanya.
“iya gak papa , yang penting kali ini kamu percaya ama aku. aku janji bahwa aku akan jaga kepercaya’an mu itu” ucap Rego.
Kini mereka berdua sama-sama tersenyum karna kali ini mereka bisa saling percaya satu sama lain.
---flasback-on----
Di sini  , aku tersenyum. Aku tersenyum karna waktu itu aku takut sekali jika kau tak percaya lagi pada ku. Haha , tapi ternyata akhirnya kau percaya pada ku.
Kau tahu? , sejujurnya dulu aku takut , aku takutt sekali kehilangan mu . tapi apa yang ku dapat? , pada akhirnya kau yang meninggalkan ku.
“sungguh tega kau pada ku. Apa kau sungguh tak mengerti perasa’an ku sa’at itu?? , perasa’an ku sa’at itu merasa hancur , sungguh hancur. Aaarrgghhhh….” Aku sungguh tak sadar dengan apa yang ku lakukan sekarang. Dan entahlah , aku hanya ingin ini menjadi mimpi dan bukan kenyata’an.
Kini aku meringkuk di sudut ranjangku setelah tadi ku menjambak keras rambut ku sendiri . terserah , terserah kalian mau menganggap ku banci atau semacamnya. Tapi jujur , sekarang aku sedang menangis , rasanya aku tak mampu tuk menahan rindu ini lebih lama lagi. Kini otak ku kembali memutar sebuah memo yang tak pernah ku harapkan tuk terjadi , sebuah memo yang sangat tak ku harapkan tuk menjadi nyata.
---flashback----
Kini Rego berada di bandara. Bila ditanya sedang apa dya di sini pun tak jelas. Karna kini pandanganya terlihat tak menentu. Pandanganya kini terlihat gusar.
“haduhhh.. kamu dimana sih?? , plies muncul dong.. , ya tuhann mana hp pake acara ketinggalan lagi” Rego kini terihat celingak-celinguk kesana-kemari.
Plukk..
Rego terkejut ketika ada terasa yang menepuk pundaknya dengan tangan. Sedetik kemudian Rego pun membalik badanya. ketika ia membalik badanya , bukan sebuah senyuman yang ia terima dari sang kekasih yang menepuk pundaknya tadi , melainkan air mata yang membentuk aliran sungai kecil di kedua pipi sang kekasih. Rego yang tak sanggup melihatnya pun akhirnya mengusap kedua pipi halus kekasihnya itu dengan kedua ibu jarinya.
“ssssstt.. udah , jangan nangis lagi yah?? , aku gak pengen air mata mu mengalir keluar lagi dihadapanku , plies kasih aku senyuman mu yang termanis , untuk yang terakhir.” Ucap Rego yang kini sudah memegang tangan sang kekasih. Kini sang kekasih pun tersenyum dengan senyum yang sangat manis menurutnya.
“okey , ini yang terakhir , dan semoga masa depan akan mempertemukan kita , tapi kini aku harus pergi , ma’afkan aku.”ucap Anggi (sang kekasih) yang perlahan melepaskan tangan Rego yang memegang tangannya erat.
“aku mengerti , kini pergilah , dan ketahuilah bahwa aku akan selalu menyimpan nama mu di sini (memegang dada) , percaya lah.” Ucap Rego dengan mata yang membendung air mata yang ingin tumpah , tapi tetap saja ia tersenyum.
“terima kasih.” Ucap Anggi dengan senyuman
‘perhatian kepada seluruh penumpang yang ingin menuju ke Palembang mohon segera masuk ke dalam pesawat karna sekitar 15 menit lagi pesawat akan lepas landas’
“aku harus pergi.” Ucap Anggi.
“ya , pergilah.” Ucap Rego yang sebenarnya tak rela.
Kini Anggi pun melangkah pergi menjauh dari hadapan Rego. dengan lanngkah berat Anggi membawa langkahnya untuk segera menuju pesawat. Ketika di ambang pintu masuk , Anggi berhenti berjalan , dia berbalik , dan tersenyum sendu ke arah Rego.
‘pergi-lah’ ucap Rego tanpa suara. Dan hanya dibalas anggukan dan senyum perpisahan dari Anggi.
Namun , sa’at setelah pesawat sang kekasih lepas landas , Rego pun tak sanggup menahan tangisnya lagi , kini ia jatuh terduduk. Dan entahlahh apa yang akan terjadi selanjutnya.                                    
---flashback-on----
Kini aku semakin menangis , hingga tak terasa aku pun tertidur dilantai sambil memeluk sebuah figura yang berisi foto kami berdua dulu. Dan ketika aku bangun di sore harinya aku pun langsung menuju balkon rumah ku. Kurasa kan angin sore menerpa wajah ku , tapi kali ini angin itu sepertinya tak datang sendirian , ia datang bersama hujan gerimis yang membasahi bumi ini.
“ya tuhann.. apakah langit juga ikut merasakan sedih ini??” aku bertanya entah pada siapa , tapi kali ini aku ingin sebuah jawaban.
Tokk.. tokk.. tokkk..
Ku dengar ketukan di pintu kamar ku. Ah , palingan itu cuman si Andre. Kata ku dalam hati.
Andre itu adalah kakak ku , dya slalu ingin membuat ku tertawa , tapi semua usahanya gagal , mungkin kini ia telah menyerah melakukan cara apapun tuk membuat ku tertawa karna kini ia telah berhenti melakukan semua itu.
Cklekk..
Ku buka pintu kamar ku. Aku terkejut melihat Andre dengan mimik wajahnya yang tak seperti biasa. Biasanya dya selalu tersenyum tapi sekarang ia terlihat sangat murung.
“mukamu kenapa Ndre??” selidik ku
“nihh..” bukanya menjawab pertanya’an ku tapi ia malah menyodorkan sebuah surat berwarna biru muda pada ku.
“apa ini??” Tanya ku.
“baca aja. Yang sabar yaa..” ia mengusap pundak ku dan berjalan pergi jauh dari hadapan ku.
Bukk..
Aku sedikit membanting keras pintu kamar ku , kini aku duduk di depan meja belajar ku. Perlahan ku baca siapa nama pengirim sura ini. Seketika mata ku terbelalak , karna entah mengapa semua ini terasa mustahil di mata ku.
“a-dhe-vi-a.ang-gi-ta??” ucap ku gugup.
Perlahan ku buka surat itu , dan aku pun membacanya.




‘hy Grego.. ^_^
Lama sudah rasanya kita tak pernah contack. Kira-kira semenjak aku pergi dulu. Maaf ya , karna waktu itu handphon ku hilang di bandara. tapi syukurlah karna aku masih mengingat alamat rumah mu. Senang rasanya bisa kembali ber-contack dengan mu setelah 5 tahun lalu.
Ekhemm.. sudah ahh basa-basinya , sebenarnya aku ingin memberi tahu mu sesuatu.
mmmm… aku kini sudah bertunangan , dan mungkin 6 bulan lagi kami akan menikah. Kami juga saling mencintai , seperti aku mencintai mu dulu. Kini kau hanya ku anggap teman atau sekedar sahabat , ma’af kan aku yaa..
mungkin hanya itu yang ingin ku sampaikan pada mu..

_adhevia anggita_
# 17 January 2018#’



Kini perasa’an ku bertambah hancur , tapi kini aku tak menangis lagi , karna kini aku senang bila kau bahagia , walau pun bukan bersama ku , semoga kau bahagia bersama dya , dan semoga saja dya bisa membahagia kan mu untuk selamanya dan biar sajalah dya yang menggantikan nama ku yang telah tertulis dihati mu……..

~~ the end~~



Hwaaaaaa… author mau minta ma’af nihh.. ma’afin author yang seblekk ini yahh.. ma’af juga kalo cerpenya gak romantic… kan si author paling gak bisa romantic.. hehehe…
Sumpah demi apapun nih cerpen ancur abiesss.. malkum lahh author kan anak alay , jadi cerpennya juga muesti alay donk #gubbrakkk
oya, sebelumnya thanks juga buat para cast yg udah bersedia namanya saya pake. thanks you so much dah pokoknya ^_^ maaf ya kalo alur gak sesuai jalan asmara kalian , #langsung #digebukin #para #cast
buat temen author yang sama sablekknya kayak author , makasih aja ya udah ngingetin author kalo si guru killer udah ada dan nyuruh berenti nulis.
aduuhh penuh perjuangan nih ngetiknya!! hargain ya! #maksa
 Haha,, jangan lupa kritik dan saranya yeahh.. oiya , like and coment juga di butuh kan lohh..
Oke , author alayy pamit dulu , dadahhh , wassalamm…                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Rabu, 23 Oktober 2013

KEJADIAN TERPAHIT KU (RiFy) *cerpen

lelah mu, jadi lelahku juga..
bahagiamu, bahagia ku pasti..
berbagi, takdir kita selalu..
kecuali, tiap kau jatuh hati..

kali ini, hampir habis dayaku, membuktikan padamu, ada cinta yang nyata..
setia, hadir setiap hari..
tak tega, biarkan kau sendiri..
meski seringkali kau malah asyik sendiri..

karna kau tak lihat
terkadang malaikat tak bersayap
tak cemerlang,tak rupawan
namun kasih ini , silakan kau adu
malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya

hampamu takkan hilang semalam
oleh pacar impian,
tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
tapi ku percaya diri, cintaku lah yang sejati

ooh..uhh..namun tak kau lihat,
terkadang malaikat tak bersayap
tak cemerlang, tak rupawan
ohh..namun kasih ini, silakan kau adu
malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya



  Dentingan piano itu begitu indah mengalun, harmoni yang tercipta seakan menggambarkan bahwa ia sedang sedih..

"Ify" panggil seseorang yag berada di belakangnya. ahh, rupannya mario sahabatnya, hanya sahabat.
"apa?" jawab Ify tanpa membalik badannya. Mario atau yang biasa di sapa Rio itu pun sgera menghampiri Ify dengan senyumnya yang merakah di bibir manisnya. Rio sudah duduk di samping Ify, Ify hanya menoleh.
"kamu tau? aku tadi nembak Shilla.. dan kamu tau? Shilla menerima ku.. haha.. ternyata benar kata mu, mencoba itu lebih baik. trimakasih ya Fy" selesai berucap, Rio pun memeluk Ify, hanya senyum yang Ify berikan, Ify tau bahwa Rio hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.


#beberapa bulan pun berlalu

  Rio semakin tak menghiraukan Ify, bahkan mungkin menganggap Ify tak pernah ada. Ify kini hanya bisa mengenang Rio yang dulu dalam ingatannya. mungkin tak ada lagi Rio yang dulu. pikir Ify.
  Ify yang semula sedang menikmati sore hari di balkon kamar pun kemudian melangkahkan kakinya kearah meja belajar miliknya. Ify mengambil pulpen dan mencarik selembar kertas diary miliknya. surat ini ia tujukan pada sahabatnya, ahh mungkin mantan sahabatnya.
  Saat ini Ify sungguh sangat prustasi, orang tuanya pergi keluar kota, hanya pembantunya lah yang menemaninya di rumah bak istana ini. malam ini ia memilih tuk memandang bintang di tempat favoritnya, balkon kamarnya. meskipun angin malam menusuk tulangnya, tapi ia pun malah tak menghiraukannya. Ia kebal dengan semua ini, kecuali  perasa'annya terhadap Rio yang tak terbalaskan, itu lah satu-satunya yang membuatnya lemah.
"andai kamu ada di sini Yo, pasti aku gak akan kesepian" air mata sudah keluar dari mata indah miliknya dan mengalir di pipi mulusnya. Ify menghapus air matanya. ahh, lagi-lagi ia teringat Rio yang selalu menghapus air matanya di kala ia menangis.
"dulu kamu yang selalu menghapus air mata ku ini dengan ibu jari mu, tapi kini kau sudah tak ada disini lagi, karna kau tlah miliknya Yo" ucap Ify dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
"mungkin kini kau lebih bahagia jika ku pergi Yo, good bye Yo, good bye bintang, good bye angin malam, good bye bulan," Ify masuk kedalam kamarnya. Biasanya ia tak biasa tidur secepat ini, ini kan baru jam 8 malam.
"mmm.. minum obat tidur aja deh.." Ify mengambil obat tidur yang biasa ia pakai, biasanya setiap kali ia setres pasti ia tak bisa tidur.
  3 butir obat tidur yang kini ada di genggamannya. ahh, bukan kah itu merupakan dosis yang amat tinggi?
"3 butir, cukup untuk menidurkan ku slamanya" setelah berucap, Ify pun meminum obatnya.

  pagi hari yang cerah, tapi gadis yang bernama Ify ini tak kunjung bangun jua, wajahnya pucat, badannya kaku. ahh, apa mungkinn.....

KREKK..
  suara pintu terbuka itu begitu pelan, takut membangunkan si empunnya kamar. tapi, hey, bukankah orang ini Rio? apakah dya kembali? oh tuhan, ia terlambat.
"ternyata kau ter tidur sangat pulas hari ini" Rio belum juga menyadari bahwa orang yang ia ajak bicara ini sudah tak bernyawa lagi.
  Rio berjalan mendekat kearah ranjang Ify, tapi satu kebiasa'an Rio, yaitu mengambil bangku yang terletak di depan meja belajar Ify untuk ia duduki. Ketika itu, Rio melihat surat tergeletak tak berdaya di atas meja belajar sahabatnya itu.
"tak biasanya dya menulis surat" Rio merasa tertarik dengan surat itu. oh tuhan, Rio membuka surat itu. Dan oh tidak, Rio kini membacanya.

  dear Rio,
ma'af ya Yo aku pergi dulu. Satu kalimat yang ingin kusampaikan untukmu, I LOVE YOU MARIO. hanya itu, trima kasih. sampai bertemu di dunia keabadian.

IfyAlyssa


  Mata Rio terbelalak, ia segera menoleh kepada Ify yang sedang tertidur pulas. perlahan, langkah kakinya membawanya kepada sang sahabat lama. Rio memegang tangan Ify, dingin. Rio pun melihat wajah Ify, pucat. 
"tidak mungkin. ini tidak mungkin.. Ify, ini becandanya gak lucu ih. bangun Fy. kamu sahabat ku Fy. kamu pasti akan bersama ku. ia kan Fy?" Rio mengecup kening Ify. biasanya jika begitu Ify akan bangun. tapi tidak kali ini.
"Fy kumohon.. bangunnnn..."

~~ 

hy kawan.. ada hikmah yang bisa kita ambil dari sini..
jangan mudah putus asa ya dalam segala masalah..
itu saja, trima kasih sudah mampir..

Selasa, 22 Oktober 2013

my friendship's

persahabatan
persahabatan itu ternyata tak memandang apapun.. bertemen secara tulus adalah maksud dari persahabatan.. aku ingin menjalani persahabatan dengan kalian lagi. tapi apadaya bila tangan tak sampai.. kita tlah terpisah,tapi aku kan slalu berdo'a agar suatu sa'at kita kan bersama lagi.. aku percaya keajaiban pasti datang di antara kita..




five-fana!! ganbatte untuk maju.. raihlah cita-cita kita masing-masing...
dan ku mohon, jangan lagi ada perseteruan di antara kita ber-lima.. 

kita ketemu waktu kelas 1 smp, dan persahabatan kita renggang karna tak adanya konflik? imposible, semua ini belum berakhir, walau kita berbeda SMA, tapi kita akan tetap berkomunikasikan? semoga..


posted by 5-fana::::
jadi ingat sewaktu kelas 2 SMP

@RyhulJann & @AdheviaAnggita

@fitri_fana , @RyhulJann & @indah_sweet2

kluarga 5-fana

@indah_sweet2 & @gildikesyanfa

@fitri_fana & indah_sweet2

@indah_sweet2 & AdheviaAnggita



finish......
thankyu udh berkunjung di blog ini