Mario stevano, orang yang berani tuk berjanji atas
nama cinta. Dan pada akhirnya, janji itu jua yang membunuh dirinya. Bukan,
bukan dirinya, melainkan hatinya. Semua dikarenakan oleh kebodohannya sendiri
yang membiarkan gadisnya pergi dan berjanji akan menunggunya sampai gadisnya
kembali, sekalipun orang yang di tunggunya bukan miliknya lagi.
Hidup
memang penuh drama
Hidup
memang penuh dengan rintangan
Tapi
yakinlah, Tuhan tau yang terbaik..
**************
In Bandung City
Senin, 4 Juni, 02:00 siang, bukit ilalang
“Ify, aku suka kamu, tapi apa kamu mau untuk membalas
rasaku ini?” seorang Mario menyatakan perasaannya pada orang pertama yang
membuatnya jatuh cinta.
Cukup lama untuk menuggu jawaban. Padahal lututnya
sudah mulai keram karna terlalu lama berlutut ala lelaki yang biasa menyatakan
cinta. Seperti di film-film. Sedangkan wanita di hadapannya tak kunjung
menjawab, tapi malah menghembuskan nafas ringannya berkali-kali. Mungkin gugup.
Mungkin.
“kamu hanya suka? Tidak cinta ataupun sayang?” satu
tarikkan nafas,tapi melontarkan beberapa pertanyaan. Wanita dihadapan Mario
kini akhirnya berbicara.
Mendengar pertanyaan semacam itu Mario jadi bingung
sendiri, ia tahu bila ia salah dalam menyatakkan cinta pada seorang wanita.
Maklum,baru pertama kali.
“maksud aku, aku suka, cinta, dan sayang sama kamu.
Dan aku tanya sekali lagi, maukah kamu membalas perasaanku dan menjadi pacarku
?” kali ini, Mario menjelaskannya panjang lebar agar wanita didepannya ini bisa
segera menjawab dan ia bisa merenggangkan otot lututnya yang terasa kaku.
Wanita didepannya itu mengangguk tanda setuju dan
berucap “oke, aku mau” wanita itu menjawabnya dengan lancar dan fasih. Dan
sekarang, Ify alyssa-wanita- resmi menjadi pacar Mario Stevano.
Dengan semangat yang menggebu-gebu Mario berdiri,
lalu membersihkan celana biru khas seragam anak SMP yang dikenakannya pada saat
itu. Sedetik kemudian ia merangkul pacar barunya-Ify-. “duduk dulu yuk, capek
nih” ucap Mario yang berterus terang merasakan penat di persendian lututnya,
Ify mengangguk sambil tersenyum tanda ia
meng-iyakan ajakan Mario.
Mereka berdua akhirnya duduk lesehan diatas rumput
ilalang yang menguning, sambil menikmati angin sore yang berhembus menerpa
wajah keduanya. Dan hanya diatas bukit ilalang inilah yang menjadi saksi awal kisah
cinta mereka.
“Rio” gadis ini masih berada dalam rangkulan Mario,
sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh lelaki muda itu.
“hmmm” hanya dengan gumam-an Mario menjawab, tetapi
suaranya terdengar lembut di telinga Ify. Dan matanya pun masih setia memandang
hamparan atap rumah yang berjejer di bawah bukit.
Gadis dalam rangkulan Mario mendongak, menatap wajah
hitam manis yang sekarang menjadi miliknya. Walaupun belum pasti untuk
selamanya.
“aku sayang kamu” tiga kata yang keluar, tiga kata sederhana namun
bermakna lebih. Tapi gadis ini mengucapkannya.
Mario menoleh menatap gadisnya itu sambil tersenyum,
mereka saling tatap untuk beberapa saat sampai kemudian Mario berucap, “aku
lebih sayang kamu, walau kita nggak sama-sama lagi, i always love you”
Ify tersemyum, “love you too”
Sore itu adalah Sore yang indah, sore yang berarti
bagi mereka.
*********
Esok paginya (selasa, 5 juni)
Ify sedang berjalan di koridor, hendak menuju
kelasnya sampai suara seseorang menghentikan lanhkahnya, “kak, kak tunggu kak”
Ify berhenti dan menoleh kebelakang. Ify melihat adik
kelasnya tapi tak tau siapa nama anak itu. Anak itu imut sekali dengan rambut
yang ia kuncir dua dan ransel berwarna baby pink yang di rangkulnya. Manis, ucap Ify dalam hati.
“ada apa?” tanya Ify dengan halus. Adik kelasnya
tersenyum sumringah, ternyata baik juga
kakak ini, ia membatin.
“kakak mau ikut aku sebentar gak? Janji deh kakak gak
aku apa-apain” gadis mungil itu menunjukkan tangan kanannya dan di bentuknya
jari yang berlambang ‘v’.
Ify tersenyum lalu mengangguk dan membuat gadis
mungil di depannya itu tersenyum riang. Dan dengan cepat gadis itu manarik
tangan Ify, membawanya menuju halaman belakang sekolah.
@halaman belakang SMP Rajawali II
Adik kelasnya itu menarik Ify sampai kebangku taman
yang berada di bawah naungan pohon akasia. Dan ketika sudah duduk santai dengan
posisi yang nyaman, Ify lalu mengeluarkan suaranya sebagai pembuka pembicaraan,
“ada apa nih? Kok pake kesini segala?” tanya Ify bingung.
“oya pertama-tama kenalin kak,” gadis itu mengulurkan
tangan mungilnya dan kemudian di sambut hangat oleh Ify. “aku Via, nama kakak
Ify kan?” lanjutnya.
Ify mengangguk, “iya, kamu angkatan barukan? Kok tau
nama aku? Aku kan gak populer di sini” tanya Ify heran. Gadis mungil di depan
Ify yang bisa di sapa Via ini tersenyum lebar sambil perlahan menarik tangannya
kembali.
“kata ka Rio, kakak itu pacarnya dya, emang bener?”
Via berkata dengan berbisik, takut ada yang dengar.
Seketika mata bulat Ify melotot tak percaya, bagaimana
anak kecil ini tau? Padahal ia dan Rio kan sepakat untuk menjalin hubungan
diam-diam dan hanya memberi tahu orang-orang tertentu. Rio hanya memberi tahu
adiknya dan Ify hanya kepada sahabatnya. Dan kenapa anak kecil ini bisa tahu? kecuali
dya.....
“kamu adiknya Rio ya?”tanya Ify to the poin. Kanapa
ia bisa bertanya begitu? Soalnya dulu Rio pernah cerita kalo dya itu selalu
curhat sama adeknya. Dan ya jelas dong kalo adeknya tauu semua aibnya Rio.
Well, ternyata Via mengangguk.
“ayo kak jawab pertanya’an ku yang tadi dong. Aku
takut kak Rio bo’ong” Via memasang muka melas, itulah jurus andalannya supaya
orang bisa mengasihani dirinya dan memberi apa yang ia minta. Sungguh gadis mungil yang licik, pikir
Ify geli.
“iya Via, kakak pacarnya kak Rio, tapi Via janji ya
jangan bilang siapa-siapa, nanti yang ada malah rusuh, janji?” Ify mengangkat
tangannya lalu hanya jari kelingking yang diangkatnya, menunggu sebuah jari
yang akan menyambut kelingkingnya sebagai ikatan janji.
Via tanpa pikir panjang ikut mengaitkan jari
kelingking tangannya untuk kemudian bertautlah jari kelingking mereka. “janji”
***********
@kelas IX-F
Keada’an kelas Ify sangat ricuh hari ini, selain
membicarakan soal rapor yang kemarin bermasalah ternyata teman-temannya juga
ada yang bergosip tentang si macho yang berada di kelas seberang, kelas IX-A.
Sebenarnya Ify tau siapa yang mereka bicarakan. Yang
mereka bicarakan itu Rio, anak super duper cerdas di kelas IX, liat aja tuh si
Rio aja di kelas unggulan. Sebenarnya dalam hati Ify eli sendiri mendengar
kasak-kusuk pembicara’an teman-temannya dengan nada putus asa dan kecewa.
“mereka ngegosipin apa’an sih Ag?” tanya Ify sok
polos ada Agni yang tadi memang sedang ngobrol dengan Dayat didekat meja rumpi
langganan cewek penggosip.
Agni duduk disamping Ify dan meletakkan tas
selempangnya di laci, “itulohh, Rio si anak sebelah kabarnya udah punya pacar,
jadi kusut deh tuh muka cewek-cewek” Agni ngerasa gak perduli dengan yang
begituan, menurutnya itu urusan orang , jadi dya gak berhak ikut campur, oya
toh?
“oh gitu, yaaahhhh kecewa deh aku, padahalkan aku
pengggila beratnya Rio” Ify berucap sambil memajang wajah sok kecewanya dan
tertunduk lesu, membuat Agni harus terkikik kecil.
Agni menyenggol siku Ify, “dasar kamu, pinter banget
kamu bersandiwara, dasar licik” ucap Agni sambil tertawa. Ify pun mendongak dan
balas menyenggol siku Agni pelan.
“hussst diem deh, entar ketahuan bisa di keroyok aku”
Ify lagi-lagi berlagak sok khawatir, padahalkan Rio pasti dengan senantiasa
akan membelanya dann melindunginya.
Agni dan Ify berpandangan sebentar, alu kembali
tertawa atas kebodohan obrolan mereka. “ahahhahahhaha.....”
********************
To be continue
Ehehe maap yak pendek, lagi gak mood ini