Kamis, 16 Januari 2014

Just You! No More *part 1

Mario stevano, orang yang berani tuk berjanji atas nama cinta. Dan pada akhirnya, janji itu jua yang membunuh dirinya. Bukan, bukan dirinya, melainkan hatinya. Semua dikarenakan oleh kebodohannya sendiri yang membiarkan gadisnya pergi dan berjanji akan menunggunya sampai gadisnya kembali, sekalipun orang yang di tunggunya bukan miliknya lagi.

Hidup memang penuh drama

Hidup memang penuh dengan rintangan

Tapi yakinlah, Tuhan tau yang terbaik..

**************

In Bandung City

Senin, 4 Juni, 02:00 siang, bukit ilalang

“Ify, aku suka kamu, tapi apa kamu mau untuk membalas rasaku ini?” seorang Mario menyatakan perasaannya pada orang pertama yang membuatnya jatuh cinta.

Cukup lama untuk menuggu jawaban. Padahal lututnya sudah mulai keram karna terlalu lama berlutut ala lelaki yang biasa menyatakan cinta. Seperti di film-film. Sedangkan wanita di hadapannya tak kunjung menjawab, tapi malah menghembuskan nafas ringannya berkali-kali. Mungkin gugup. Mungkin.

“kamu hanya suka? Tidak cinta ataupun sayang?” satu tarikkan nafas,tapi melontarkan beberapa pertanyaan. Wanita dihadapan Mario kini akhirnya berbicara.

Mendengar pertanyaan semacam itu Mario jadi bingung sendiri, ia tahu bila ia salah dalam menyatakkan cinta pada seorang wanita. Maklum,baru pertama kali.
“maksud aku, aku suka, cinta, dan sayang sama kamu. Dan aku tanya sekali lagi, maukah kamu membalas perasaanku dan menjadi pacarku ?” kali ini, Mario menjelaskannya panjang lebar agar wanita didepannya ini bisa segera menjawab dan ia bisa merenggangkan otot lututnya yang terasa kaku.

Wanita didepannya itu mengangguk tanda setuju dan berucap “oke, aku mau” wanita itu menjawabnya dengan lancar dan fasih. Dan sekarang, Ify alyssa-wanita- resmi menjadi pacar Mario Stevano.

Dengan semangat yang menggebu-gebu Mario berdiri, lalu membersihkan celana biru khas seragam anak SMP yang dikenakannya pada saat itu. Sedetik kemudian ia merangkul pacar barunya-Ify-. “duduk dulu yuk, capek nih” ucap Mario yang berterus terang merasakan penat di persendian lututnya, Ify mengangguk sambil tersenyum  tanda ia meng-iyakan ajakan Mario.

Mereka berdua akhirnya duduk lesehan diatas rumput ilalang yang menguning, sambil menikmati angin sore yang berhembus menerpa wajah keduanya. Dan hanya diatas bukit ilalang inilah yang menjadi saksi awal kisah cinta mereka.

“Rio” gadis ini masih berada dalam rangkulan Mario, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh lelaki muda itu.
“hmmm” hanya dengan gumam-an Mario menjawab, tetapi suaranya terdengar lembut di telinga Ify. Dan matanya pun masih setia memandang hamparan atap rumah yang berjejer di bawah bukit.
Gadis dalam rangkulan Mario mendongak, menatap wajah hitam manis yang sekarang menjadi miliknya. Walaupun belum pasti untuk selamanya.

“aku sayang kamu” tiga kata yang keluar, tiga kata sederhana namun bermakna lebih. Tapi gadis ini mengucapkannya.
Mario menoleh menatap gadisnya itu sambil tersenyum, mereka saling tatap untuk beberapa saat sampai kemudian Mario berucap, “aku lebih sayang kamu, walau kita nggak sama-sama lagi, i always love you”

Ify tersemyum, “love you too”
Sore itu adalah Sore yang indah, sore yang berarti bagi mereka.

*********

Esok paginya (selasa, 5 juni)

Ify sedang berjalan di koridor, hendak menuju kelasnya sampai suara seseorang menghentikan lanhkahnya, “kak, kak tunggu kak”

Ify berhenti dan menoleh kebelakang. Ify melihat adik kelasnya tapi tak tau siapa nama anak itu. Anak itu imut sekali dengan rambut yang ia kuncir dua dan ransel berwarna baby pink yang di rangkulnya. Manis, ucap Ify dalam hati.
“ada apa?” tanya Ify dengan halus. Adik kelasnya tersenyum sumringah, ternyata baik juga kakak ini, ia membatin.

“kakak mau ikut aku sebentar gak? Janji deh kakak gak aku apa-apain” gadis mungil itu menunjukkan tangan kanannya dan di bentuknya jari yang berlambang ‘v’.
Ify tersenyum lalu mengangguk dan membuat gadis mungil di depannya itu tersenyum riang. Dan dengan cepat gadis itu manarik tangan Ify, membawanya menuju halaman belakang sekolah.

@halaman belakang SMP Rajawali II

Adik kelasnya itu menarik Ify sampai kebangku taman yang berada di bawah naungan pohon akasia. Dan ketika sudah duduk santai dengan posisi yang nyaman, Ify lalu mengeluarkan suaranya sebagai pembuka pembicaraan, “ada apa nih? Kok pake kesini segala?” tanya Ify bingung.

“oya pertama-tama kenalin kak,” gadis itu mengulurkan tangan mungilnya dan kemudian di sambut hangat oleh Ify. “aku Via, nama kakak Ify kan?” lanjutnya.
Ify mengangguk, “iya, kamu angkatan barukan? Kok tau nama aku? Aku kan gak populer di sini” tanya Ify heran. Gadis mungil di depan Ify yang bisa di sapa Via ini tersenyum lebar sambil perlahan menarik tangannya kembali.

“kata ka Rio, kakak itu pacarnya dya, emang bener?” Via berkata dengan berbisik, takut ada yang dengar.
Seketika mata bulat Ify melotot tak percaya, bagaimana anak kecil ini tau? Padahal ia dan Rio kan sepakat untuk menjalin hubungan diam-diam dan hanya memberi tahu orang-orang tertentu. Rio hanya memberi tahu adiknya dan Ify hanya kepada sahabatnya. Dan kenapa anak kecil ini bisa tahu? kecuali dya.....

“kamu adiknya Rio ya?”tanya Ify to the poin. Kanapa ia bisa bertanya begitu? Soalnya dulu Rio pernah cerita kalo dya itu selalu curhat sama adeknya. Dan ya jelas dong kalo adeknya tauu semua aibnya Rio. Well, ternyata Via mengangguk.

“ayo kak jawab pertanya’an ku yang tadi dong. Aku takut kak Rio bo’ong” Via memasang muka melas, itulah jurus andalannya supaya orang bisa mengasihani dirinya dan memberi apa yang ia minta. Sungguh gadis mungil yang licik, pikir Ify geli.
“iya Via, kakak pacarnya kak Rio, tapi Via janji ya jangan bilang siapa-siapa, nanti yang ada malah rusuh, janji?” Ify mengangkat tangannya lalu hanya jari kelingking yang diangkatnya, menunggu sebuah jari yang akan menyambut kelingkingnya sebagai ikatan janji.

Via tanpa pikir panjang ikut mengaitkan jari kelingking tangannya untuk kemudian bertautlah jari kelingking mereka. “janji”

***********

@kelas IX-F

Keada’an kelas Ify sangat ricuh hari ini, selain membicarakan soal rapor yang kemarin bermasalah ternyata teman-temannya juga ada yang bergosip tentang si macho yang berada di kelas seberang, kelas IX-A.
Sebenarnya Ify tau siapa yang mereka bicarakan. Yang mereka bicarakan itu Rio, anak super duper cerdas di kelas IX, liat aja tuh si Rio aja di kelas unggulan. Sebenarnya dalam hati Ify eli sendiri mendengar kasak-kusuk pembicara’an teman-temannya dengan nada putus asa dan kecewa.

“mereka ngegosipin apa’an sih Ag?” tanya Ify sok polos ada Agni yang tadi memang sedang ngobrol dengan Dayat didekat meja rumpi langganan cewek penggosip.

Agni duduk disamping Ify dan meletakkan tas selempangnya di laci, “itulohh, Rio si anak sebelah kabarnya udah punya pacar, jadi kusut deh tuh muka cewek-cewek” Agni ngerasa gak perduli dengan yang begituan, menurutnya itu urusan orang , jadi dya gak berhak ikut campur, oya toh?

“oh gitu, yaaahhhh kecewa deh aku, padahalkan aku pengggila beratnya Rio” Ify berucap sambil memajang wajah sok kecewanya dan tertunduk lesu, membuat Agni harus terkikik kecil.
Agni menyenggol siku Ify, “dasar kamu, pinter banget kamu bersandiwara, dasar licik” ucap Agni sambil tertawa. Ify pun mendongak dan balas menyenggol siku Agni pelan.

“hussst diem deh, entar ketahuan bisa di keroyok aku” Ify lagi-lagi berlagak sok khawatir, padahalkan Rio pasti dengan senantiasa akan membelanya dann melindunginya.

Agni dan Ify berpandangan sebentar, alu kembali tertawa atas kebodohan obrolan mereka. “ahahhahahhaha.....”

********************

To be continue

Ehehe maap yak pendek, lagi gak mood ini